Senja Terakhir
"Senja hari ini berbeda" kataku.
Kau masih terdiam duduk dengan bola basket disampingmu.
Menatap ke arah langit barat yang mulai menyemburatkan cahaya jingganya.
Aku menatapmu.
Aku masih tidak percaya, bahwa aku bisa menikmati senja bersamamu. Bersama orang yang selama ini ku rindu.
Terima kasih, Tuhan. Kau sudah mendatangkan hari ini untukku.
Kau masih terdiam.
Matahari sudah mulai tenggelam.
Aku menikmati dengan segenap perasaan yang terdalam.
Sungguh, aku tak ingin senja segera berakhir sore ini.
Karena aku tak pernah tahu, setelah ini, apakah aku masih bisa menikmati senja bersamamu?
Atau setidaknya, apakah setelah ini, aku masih bisa bertemu denganmu?
Aku tak tahu.
Aku tak mau.
Aku tak mau senja cepat berlalu.
Tapi aku juga tak bisa menghentikan waktu.
Aku ingin terus bersamamu.
Melihatmu sedekat ini.
Dekat. Lekat.
Namun waktu tetaplah waktu.
Ia harus tetap melaju.
Senja akhirnya berlalu.
Kau bangkit dari dudukmu dan membawa bola basket yang sedari tadi disampingmu.
"Sudah waktunya pulang." Katamu,
Aku bangkit dari dudukku.
Ku anggukkan sedikit kepalaku sebagai isyarat meng-iya-kan.
Aku berjalan dibelakangmu.
Aku hanya bisa melihat punggungmu yang tersinari cahaya lampu-lampu kota.
Tapi perlahan, aku mulai kehilangan punggungmu.
Kau mulai tak terlihat dikeramaian kota ini.
Aku kehilanganmu..
Setelah hari itu berlalu. Aku sudah tak tahu bagaimana kabarmu.
Tak ada semilir angin yang menghembuskannya.
Tak ada kicau nuri yang membisikkannya.
Tak ada suara apapun yang dapat ku dengar tentangmu.
Senja-senja selanjutnya ku nikmati seorang diri. Sama seperti sebelum waktu itu.
Aku menerka-nerka, jika kau kembali pada masa lalumu.
Pada seseorang yang membuatmu sulit untuk membuka lembaran baru.
Entahlah, aku tak tahu.
Kuharap itu tak benar.
Aku mulai meramu rindu kembali.
Berharap-harap agar semesta mau mempertemukan kita lagi.
Aku merindu untuk waktu yang sangat lama.
Hingga akhirnya tersiar kabar, bahwa kau kembali padanya.
Kembali pada masa-lalu-mu.
Kau tebak sendiri apa yang terjadi padaku saat itu.
Kau pasti tahu apa yang kurasakan. Atau tidak?
Ah, kau pasti tak peduli.
Sejak saat itu, senjaku selalu pilu.
Terlalu getir dan tak dapat kuukir.
Sejak saat itu, senjaku tak lagi sama.
Selalu ada duka yang kurasa, tak ada senyum yang menghiasinya.
Sejak saat itu, senjaku kehilangan jingganya.
Seolah menandakan bahwa aku harus kehilanganmu selamanya.
Kau berjalan menuju bahagiamu dengannya. Dan aku mulai berjalan menuju baik-baik saja.
Aku benci mengatakan ini..
"Selamat berbahagia, kamu. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu. Selalu. Terima kasih untuk senja terakhir waktu itu."
Dari aku yang mencintaimu..
